c

Potensi perkebunan, khususnya jeruk semakin diminati oleh para petani jeruk Rantau Panjang. Rohdi Sama, salah satu petani jeruk Rantau Panjang saat ditemui pada 28/11 lalu di kebun jeruk miliknya memimpikan kedepannya Rantau Panjang dapat menjadi kampung sentra jeruk di Berau. Impian tersebut bukanlah impian semata, buktinya pada tahun lalu Rantau Panjang dijadikan obyek studi banding para petani jeruk dampingan salah satu perusahaan tambang batu bara di Bulungan, Kalimantan Utara. “Saya yakin dengan apa yang kami usahakan, suatu hari kelak kampung kami akan menjadi produsen jeruk untuk Kalimantan Timur,” ujar pria yang akrab dipanggil Roni tersebut. Selain menjadi obyek studi banding, Roni menambahkan bahwa dirinya dan 39 petani jeruk Rantau Panjang lainnya telah mampu memproduksi bibit jeruk sendiri dengan memanfaatkan teknik penanaman okulasi mata entres serta menjualnya kepada para petani jeruk lainnya. Sebelum berkecimpung di budidaya jeruk, pada 2003, Roni pernah berusaha menernakan ayam petelur. Akibat permasalahan pakan, ayam-ayam petelur miliknya tidak berproduksi sehingga ia terpaksa menjual ayam petelur miliknya demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada 2007, pria yang juga memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sehati Tunas Mekar, dikenalkan dengan jeruk siam, rambutan dan durian oleh PT Berau Coal (BC) melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC). Dari kesemua komoditas tersebut, jeruk siamlah yang paling menggiurkan. Sekali panen, satu pohon jeruk siam bisa menghasilkan 50-60 kilogram (Kg) dengan harga pasaran Rp 10 ribu per Kg. Pada 2010, BC mulai mengenalkan dan memberi bibit jeruk keprok borneo prima kepada Gapoktan Sehati Tunas Mekar untuk mulai dibudidayakan, hal ini merupakan salah satu upaya mendukung gerakan penanaman varietas lokal yang digalakkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Berau. Saat dikenalkan varietas jeruk asli Kalimantan Timur tersebut, pria asal Nusa Tenggara Barat ini bersama 39 anggota Gapoktan-nya, awalnya ragu dapat membudidayakan jeruk keprok borneo prima. Pada 2011, Gapoktan Sehati Tunas Mekar mulai membibit sendiri jeruk keprok borneo prima dilahan mereka yang memiliki lahan masing-masing seluas 1 hektar. “Saat melihat hasil sementara buahnya, saya tidak ragu lagi. Kami perkirakan, jika semua kebun anggota Gapoktan berbuah, kami bisa menjadi produsen jeruk keprok borneo prima, dan pasti untungnya lebih besar karena buahnya lebih besar dari jeruk siam,” ujar pria yang saat ini memiliki 4 anak tersebut. Selain Roni, ada pula  Siri, petani jeruk Rantau Panjang lainnya. Siri telah berhasil lebih dahulu membudidayakan jeruk keprok borneo prima. Walaupun kebunnya tergolong kecil, hanya memiliki sekitar 40 pohon. Akan tetapi satu pohonnya mampu menghasilkan 40 kilogram sekali panen. “Bayangkan jika 40 pohon dikalikan 40 kilogram sudah 1,6 ton jeruk keprok borneo prima yang dihasilkan, lumayan untuk menambah penghasilan” ujar pria yang sudah memasuki usia senja tersebut yang masih aktif berkebun. Keberhasilan Roni, Siri dan rekan-rekan petani jeruk Gapoktan-nya bukanlah instan, setelah dilakukan persemaian bibit sekitar 9 bulan, pohon-pohon jeruk ini memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk menghasilkan buah jeruk siam perdana. Sedangkan jeruk keprok borneo prima membutuhkan waktu sekira 3-4 tahun. Adapun kendala yang dihadapi saat pohon jeruknya terserang penyakit busuk akar, “kalau sudah terserang penyakit ini, pohon jeruk pasti mati. Tapi berkat pelatihan dan pendampingan BC selama ini, kami mampu mengatasinya” ujar Roni sambil memperlihatkan hasil buah jeruk keproknya. Roni menambahkan, kedepannya ia dan Gapoktan-nya akan memegang pemasarannya sendiri dengan menjual langsung ke pasar tidak melalui para tengkulak yang membeli jeruk disini Muhammad Fathoni, Agribusiness Development Officer BC, menambahkan selain pendampingan, kami juga membantu pelatihan untuk para petani jeruk Rantau Panjang bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, Malang. “Kami memberikan pelatihan guna memberikan tambahan pengetahuan para petani, dan juga membantu pupuk, herbisida dan obat pemberantas hama,” ujar pria yang akrab dipanggil Toni tersebut. Dari manisnya berkebun jeruk inilah, Roni mampu menghidupi keluarganya tanpa kekurangan sedikitpun. “Selain menjual hasil panen, saya juga melayani pembelian bibit jeruk, serta kalau ada yang ingin belajar bertani jeruk, kami siap untuk berbagi ilmu,” tutur pria yang memasuki usia 45 tahun di 2014 ini. (BP/FSO)

c

Potensi perkebunan, khususnya jeruk semakin diminati oleh para petani jeruk Rantau Panjang. Rohdi Sama, salah satu petani jeruk Rantau Panjang saat ditemui pada 28/11 lalu di kebun jeruk miliknya memimpikan kedepannya Rantau Panjang dapat menjadi kampung sentra jeruk di Berau. Impian tersebut bukanlah impian semata, buktinya pada tahun lalu Rantau Panjang dijadikan obyek studi banding para petani jeruk dampingan salah satu perusahaan tambang batu bara di Bulungan, Kalimantan Utara. “Saya yakin dengan apa yang kami usahakan, suatu hari kelak kampung kami akan menjadi produsen jeruk untuk Kalimantan Timur,” ujar pria yang akrab dipanggil Roni tersebut. Selain menjadi obyek studi banding, Roni menambahkan bahwa dirinya dan 39 petani jeruk Rantau Panjang lainnya telah mampu memproduksi bibit jeruk sendiri dengan memanfaatkan teknik penanaman okulasi mata entres serta menjualnya kepada para petani jeruk lainnya. Sebelum berkecimpung di budidaya jeruk, pada 2003, Roni pernah berusaha menernakan ayam petelur. Akibat permasalahan pakan, ayam-ayam petelur miliknya tidak berproduksi sehingga ia terpaksa menjual ayam petelur miliknya demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada 2007, pria yang juga memimpin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sehati Tunas Mekar, dikenalkan dengan jeruk siam, rambutan dan durian oleh PT Berau Coal (BC) melalui Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC). Dari kesemua komoditas tersebut, jeruk siamlah yang paling menggiurkan. Sekali panen, satu pohon jeruk siam bisa menghasilkan 50-60 kilogram (Kg) dengan harga pasaran Rp 10 ribu per Kg. Pada 2010, BC mulai mengenalkan dan memberi bibit jeruk keprok borneo prima kepada Gapoktan Sehati Tunas Mekar untuk mulai dibudidayakan, hal ini merupakan salah satu upaya mendukung gerakan penanaman varietas lokal yang digalakkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Berau. Saat dikenalkan varietas jeruk asli Kalimantan Timur tersebut, pria asal Nusa Tenggara Barat ini bersama 39 anggota Gapoktan-nya, awalnya ragu dapat membudidayakan jeruk keprok borneo prima. Pada 2011, Gapoktan Sehati Tunas Mekar mulai membibit sendiri jeruk keprok borneo prima dilahan mereka yang memiliki lahan masing-masing seluas 1 hektar. “Saat melihat hasil sementara buahnya, saya tidak ragu lagi. Kami perkirakan, jika semua kebun anggota Gapoktan berbuah, kami bisa menjadi produsen jeruk keprok borneo prima, dan pasti untungnya lebih besar karena buahnya lebih besar dari jeruk siam,” ujar pria yang saat ini memiliki 4 anak tersebut. Selain Roni, ada pula  Siri, petani jeruk Rantau Panjang lainnya. Siri telah berhasil lebih dahulu membudidayakan jeruk keprok borneo prima. Walaupun kebunnya tergolong kecil, hanya memiliki sekitar 40 pohon. Akan tetapi satu pohonnya mampu menghasilkan 40 kilogram sekali panen. “Bayangkan jika 40 pohon dikalikan 40 kilogram sudah 1,6 ton jeruk keprok borneo prima yang dihasilkan, lumayan untuk menambah penghasilan” ujar pria yang sudah memasuki usia senja tersebut yang masih aktif berkebun. Keberhasilan Roni, Siri dan rekan-rekan petani jeruk Gapoktan-nya bukanlah instan, setelah dilakukan persemaian bibit sekitar 9 bulan, pohon-pohon jeruk ini memerlukan waktu sekitar 2 tahun untuk menghasilkan buah jeruk siam perdana. Sedangkan jeruk keprok borneo prima membutuhkan waktu sekira 3-4 tahun. Adapun kendala yang dihadapi saat pohon jeruknya terserang penyakit busuk akar, “kalau sudah terserang penyakit ini, pohon jeruk pasti mati. Tapi berkat pelatihan dan pendampingan BC selama ini, kami mampu mengatasinya” ujar Roni sambil memperlihatkan hasil buah jeruk keproknya. Roni menambahkan, kedepannya ia dan Gapoktan-nya akan memegang pemasarannya sendiri dengan menjual langsung ke pasar tidak melalui para tengkulak yang membeli jeruk disini Muhammad Fathoni, Agribusiness Development Officer BC, menambahkan selain pendampingan, kami juga membantu pelatihan untuk para petani jeruk Rantau Panjang bekerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, Malang. “Kami memberikan pelatihan guna memberikan tambahan pengetahuan para petani, dan juga membantu pupuk, herbisida dan obat pemberantas hama,” ujar pria yang akrab dipanggil Toni tersebut. Dari manisnya berkebun jeruk inilah, Roni mampu menghidupi keluarganya tanpa kekurangan sedikitpun. “Selain menjual hasil panen, saya juga melayani pembelian bibit jeruk, serta kalau ada yang ingin belajar bertani jeruk, kami siap untuk berbagi ilmu,” tutur pria yang memasuki usia 45 tahun di 2014 ini. (BP/FSO)