Berbicara mengenai isu seputar gender memang selalu menarik dan menggelitik untuk dibahas. Istilah “Men are from Mars and Women are from Venus” juga mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita semua. Belakangan ini di dunia pekerjaan, isu gender juga masih sering menjadi topik perbincangan yang cukup sering dibahas. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) telah menyimpulkan berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik selama tahun 2019, tingkat kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam kaitannya terhadap ketenagakerjaan masih cukup tinggi (KPPPA, 2019).

Kesenjangan yang masih terjadi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari ini cukup menggelitik untuk melihat lebih dalam dan lebih lanjut mengenai kesenjangan yang terjadi. Beberapa hal yang dapat menjadi sorotan antara lain:

  1. Upah Laki-Laki dan Perempuan yang Tidak Sejajar

Tidak dapat dipungkiri, dalam budaya Indonesia, kita percaya dan meyakini bahwa ada suatu konsep social stereotype mengenai laki-laki yang harus dituntut untuk mendapatkan pekerjaan dan upah lebih baik dari pada perempuan. Padahal, di era yang sangat modern ini, konseptual tersebut mestinya sudah tidak relevan lagi. Faktanya, data menyebutkan bahwa perempuan menerima gaji 23% lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki (Sri Mulyani dalam CNB Indonesia, 2019). Hal ini tentunya semakin memperkuat isu kesenjangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki, padahal perempuan juga berhak untuk mendapatkan gaji yang setara dengan laki-laki sesuai dengan kesejajarannya.

  1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

Badan Pusat Statistik (2019) menyebutkan bahwa TPAK perempuan hanya mencapai 55% dibandingkan dengan laki-laki yang mencapai 83%. Rendahnya angka tersebut diakibatkan oleh proses sistematis yang sudah sangat terinternalisasi dari proses seleksi dan perekrutan bahkan hingga proses promosi dan pengakhiran hubungan kerja yang diskriminatif terhadap gender.

  1. Social Stereotype & Perception

Persepsi dan stereotip sosial juga menjadi salah satu hambatan terbesar tentang adanya kesenjangan gender dalam dunia pekerjaan. Persepsi dan stereotip bahwa perempuan dipercaya sebagai makhluk yang baik dan ramah namun kurang kompeten dibandingkan dengan laki-laki ini masih sangat dipegang oleh masyarakat luas, bahkan dunia (Heilman & Park-Stamm, 2007). Selain itu, perempuan juga dinilai lebih emosional dan kurang menggunakan logikanya ketika mengambil sebuah keputusan sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh dalam pekerjaan. Padahal, skill emosional khususnya empati yang dimiliki oleh perempuan merupakan salah satu skill terpenting yang harus dimiliki oleh leader dalam era industri saat ini dan ke depannya.

Jadi, sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan dengan kedudukan yang sejajar, mari kita hentikan kesenjangan gender di lingkungan kita. Saling menghargai, menghormati, belajar, dan toleransi perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari hari. Untuk seluruh perempuan yang saat ini meniti karir dan bekerja, kita harus meningkatkan skill kemampuan kita agar tidak dipandang sebelah mata. Fokus mengenali diri kita, mengenali kelebihan kita, dan terus mengasah diri menjadi pribadi yang lebih baik pasti akan menepis isu gender tersebut. All in all, mari kita bersama-sama saling menguatkan dan mendukung, tidak hanya perempuan mendukung perempuan, tetapi laki-laki dan juga sebaliknya sehingga semuanya berkolaborasi tanpa memandang gender. (RSM/RDN)