c

Mimpi Kampung Tanjung Perangat untuk menjadi “Kampung Karet” sebentar lagi terwujud. Kampung dengan lahan tanaman karet seluas 38,25 hektar yang berada di wilayah Kecamatan Sambaliung itu itu akan diplot sebagai kampung penghasil bibit karet unggul di Kabupaten Berau.

Saat ditemui, Jaenuri salah satu dari 16 anggota kelompok tani Harapan Makmur menjelaskan awalnya tidak mudah untuk dapat menghasilkan karet berkualitas baik dikarenakan keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan fasilitas yang ada, sehingga penanaman hanya dengan bibit cabutan.

Demi membantu kendala yang dihadapi, PT Berau Coal memberikan bantuan pelatihan kepada para petani karet Tanjung Perangat. Bekerjasama dengan balai pelatihan Getas, Salatiga, Jawa Tengah kini para petani mampu menghasilkan bibit karet produk unggul melalui okulasi mata entres.

Terdata saat ini di kebun entres karet Tanjung Perangat terdapat bibit karet IRRC 100, IRR 112, PB 260, PB 340, IRR 118 dan IRR 112. Produk yang menjadi unggulan yakni PB 260, IRRC 100 dan IRR 112 karena memiliki getah paling banyak.

 

“Setelah mengikuti pelatihan di Getas 2011 lalu, kami mampu menghasilkan bibit karet unggul dan hasilnya 2 kali lebih banyak dengan teknik okulasi mata entres” ujar pria yang pertama kali menginjakkan kakinya di Berau pada 1995 silam.

Kendala lain yang dihadapi para petani jika tanaman karet diserang penyakit akar bawah yakni jamur akar putih yang akan menyebabkan mati total tanaman tersebut. “Alhamdulillah, berkat dari pelatihan tersebut, kami jadi tahu cara mengatasi serangan penyakit tanaman karet dan Berau Coal juga bantu herbisida jadi kami bisa atasi serangan hama dan penyakit”, tandas pria yang memiliki 3 anak tersebut.

Sementara Suyanto, anggota kelompok tani Harapan Makmur lainnya menambahkan pada kondisi hujan saat ini juga memberikan tantangan jika memanennya tidak cepat maka getah akan terlalu encer.

Pria asli Jawa Tengah yang merantau ke Berau sejak 1996 tersebut menegaskan bahwa untuk memproduksi bibit karet bermutu, terlebih dahulu harus dibangun kebun entres agar mata tunas atau kayu entres dapat tersedia secara berkelanjutan dengan jumlah yang mencukupi.

Demi mencukupi jumlah tersebut maka diperlukan bibit batang bawah dengan akar kuat, daya serap air bagus dan unsur hara yang baik serta tahan terhadap penyakit. Oleh karena itu, perlu persiapan lahan, penanganan benih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usaha pemeliharaan tanaman di pembibitan.

Setelah bibit batang bawah beumur 6-8 bulan, pengokulasian sudah dapat dilakukan dengan menggunakan mata tunas dari tanaman entres yang sudah berumur minimal 8-12 bulan. Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis, dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul

“Dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanaman berupa stum mata tidur, yang selanjutnya dilakukan pembibitan di dalam polybag,” ujar pria kelahiran 48 tahun silam tersebut. Bibit hasil okulasi dalam polybag dapat dipindah tanam ke lapangan, jika sudah memiliki satu atau dua payung daun.

Ditemui ditempat bersamaan, Jaliman, pendamping wilayah Kampung Tanjung Perangat menambahkan bahwa dirinya rutin ke lapangan untuk mendata kebutuhan para petani dalam meningkatkan hasil dan kualitas karet yang maksimal. “Harapannya, karet ini dapat menjadi komoditas unggulan di Berau serta kedepannya Tanjung Perangat sebagai sentra karet”, pungkasnya.