Para peserta Pelatihan Peningkatan Kualitas dan Modifikasi Produk di Balai Kampung Tasuk bersama hasil karya mereka.

Dua belas perempuan duduk di atas lantai kayu yang beralaskan karpet plastik berwarna biru. Mengelilingi sebuah meja pendek, mereka dengan telaten memasukkan satu per satu ujung rotan sehingga menjadi anyaman. Helai-helai rotan yang telah dipipihkan itu akhirnya membentuk sebuah benda berbentuk tas. 

Senin, 19 Juni 2023, para ibu tersebut mencoba memodifikasi produk kerajinan di Balai Kampung Tasuk, Gunung Tabur, Berau. Mereka merupakan anggota Dasawisma Komunitas Adat Terpencil (KAT) Km 21 Sambarta yang mengikuti Pelatihan Peningkatan Kualitas dan Modifikasi Produk. Peserta pelatihan yang diadakan PT Berau Coal ini semuanya perempuan. Yang paling tua bernama Nenek Ruth. Usianya sudah 70 tahun tetapi matanya masih awas. 

Para ibu dengan tekun mengikuti panduan menganyam dari instruktur. Seorang di antara mereka yang menjadi peserta pelatihan bernama Amalan Daeli. Mala, panggilannya, sudah belajar menganyam sejak setahun silam. Akan tetapi, ia merasa hasil karyanya begitu-begitu saja. Mala pun begitu senang mengikuti pelatihan ini. Ia bisa menambah keterampilan untuk memodifikasi produk kerajinannya. 

Mala biasa membuat tiga produk kerajinan. Pertama adalah kapil atau tas kecil. Kapil terbuat dari anyaman rotan yang memiliki penutup. Tas yang diselempangkan ini cocok untuk tempat membawa handphone maupun alat-alat kosmetik. Produk kedua yaitu anjat atau tas punggung yang terbuat dari anyaman rotan juga. Ukuran anjat lebih besar dari kapil. Sementara produk terakhir yaitu saung atau seraung. Penutup kepala yang bentuknya seperti topi petani ini terbuat dari kain, daun, dan rotan. 

“Untuk menganyam satu produk tersebut, saya biasanya perlu waktu sehari,” tutur Mala.

Hampir semua bahan baku produk tersebut berasal dari hutan. Rotan untuk membuat kapil, anjat, dan saung, harus diolah sebelum dipakai menganyam. Langkah pertama adalah membelah rotan menjadi helai-helai tipis. Helaian itu kemudian digosok supaya lembut. Setelah itu, perlu tenaga terampil untuk meraut rotan menggunakan pisau khusus. Hanya dua orang peraut rotan yang tersisa di kampung tersebut.

Daun sang adalah bahan baku berikutnya. Daun ini diperoleh dari pohon yang berduri, seperti pokok salak, yang tumbuh di hutan. Daun sang harus dikeringkan supaya bisa dipakai untuk membuat saung atau seraung.

Mala menceritakan semua itu seraya tangannya terus menganyam. Tak terasa, kapil yang ia buat sudah hampir selesai. Bagian tersulit menurutnya adalah membuat pola. Selama ini, anyaman yang Mala buat polos-polos saja. Berkat pelatihan hari itu yang diadakan PT Berau Coal melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), Mala sedikit demi sedikit sudah bisa membuat pola.

“Kalau ditambah pola, kapil, anjat, dan saung bisa lebih cantik. Kalau lebih cantik, tentu yang mau membeli bisa lebih banyak lagi,” harapnya.

Selama ini, sejumlah produk kerajinan tangan dari KAT Km 21 Sambarta sebenarnya sudah mulai dibeli. Harganya bervariasi. Kapil dijual Rp 150 ribu, anjat Rp 200 ribu, dan saung Rp 100 ribu.  Akan tetapi, penjualan produk tersebut masih terbatas. Selain masih dijual di sekitar kampung, variasi dan modifikasi produk-produk tersebut belum terlampau banyak. 

“Makanya, Berau Coal menyiapkan pendampingan berkelanjutan. Kami mendampingi mulai pelatihan, pengembangan produk, hingga pemasarannya,” terang Reza Hermawan selaku Community Development PT Berau Coal, di sela-sela pelatihan.

Reza menambahkan, produk-produk yang sudah layak dan memiliki nilai jual akan dipajang di Rumah Kemas Batiwakkal. Pembangunan outlet oleh-oleh khas Berau ini diinisiasi PT Berau Coal. Aneka kue, jajanan tradisional, hingga kerajinan asli hasil produksi usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal dijual di sana. Rumah Kemas Batiwakkal itu berdiri di Jalan Pemuda, Kelurahan Tanjung Redeb. Para wisatawan bisa membeli oleh-oleh khas Berau cukup di satu lokasi tersebut. 

Contoh produk yang dihasilkan dari pendampingan PT Berau Coal dan dijual di Rumah Kemas Batiwakkal adalah Madunta. Madu Hutan asli Kalimantan itu diproduksi KAT Suku Dayak Punan Basap.

“Kami berharap, kerajinan tangan dari KAT Km 21 Sambarta ini juga segera bisa dijual di Rumah Kemas Batiwakkal. Dengan begitu, ibu-ibu di sini juga mendapat penghasilan tambahan yang pada akhirnya menumbuhkan kemandirian,” terang Reza.

Pembukaan Pelatihan Peningkatan Kualitas dan Modifikasi Produk di Balai Kampung Tasuk. Dari kiri ke kanan: Kepala Kampung Tasuk, Usmansyah; Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita; Perwakilan Dekranasda, Rusmiati; dan Comdev PT Berau Coal, Reza Hermawan.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Berau, Eva Yunita, mengapresiasi upaya pendampingan dari Berau Coal. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) searah dengan visi dan misi Bupati Berau. Kualitas SDM yang baik tentu saja dapat menciptakan kesejahteraan.

Menurutnya, produk anyaman di  KAT Km 21 Sambarta masih polos dan tingkat dasar. Ia berharap, Berau Coal terus mendampingi sehingga kualitas produknya meningkat. 

“Secara lebih luas lagi, Berau Coal membantu memberdayakan kearifan lokal sehingga warga memperoleh penghasilan,” harap Eva Yunita selepas membuka pelatihan. 

Sementara itu, dua belas ibu masih mengikuti pelatihan di Balai Kampung Tasuk. Mereka dengan tekun belajar memodifikasi produk anyaman rotan. Mereka tak hanya menganyam rotan. Jari-jemari ibu-ibu itu sesungguhnya sedang merajut kemandirian untuk masa depan. (*)

Sumber: kaltimkece.id